Aku adalah lulusan tahun 2009 dari sebuah SMA swasta di Surabaya. SMA Al-Hikmah namanya. Waktu itu, tepatnya bulan Juni, usai mengikuti Unas selama kurang lebih seminggu, aku mengikuti intensif SNMPTN selama satu bulan yang diadakan oleh sekolahku. Aku tidak mengikuti bimbel manapun karena aku pikir hasilnya akan sama, antara mengikuti intensif di sekolah dan mengikuti intensif di bimbel. Alasan keduaku adalah untuk menghemat biaya. Karena ikut ataupun tidak ikut intensif di sekolah, tetap harus membayar spp bulan itu juga. Jadi aku pikir ikut intensif saja di sekolah. Teman-temanku ada yang ikut dua. Ikut intensif di sekolah dan ikut intensif di bimbel. Ya terserah saja sih...
Selama intensif itu, aku melaluinya dengan sungguh-sungguh. Pernah suatu waktu aku datang terlambat. Aku datang terlambat lebih dari 2 kali. Lalu akupun disuruh menghadap wakil kepala sekolah ( yang notabene adalah alumni teknik elektro ITS, pilihan pertamaku di SNMPTN 2009 ). Sesampaimya di ruang wakasek, aku disuruh membuat surat pernyataan. Bahwa bila datang terlambat sekali lagi maka aku tidak diizinkan mengikuti intensif untuk selama-lamanya (ekstrim !!). Lalu akupun diminta menandatangani surat itu, kemudian wakasek yang bertanda tangan disebelah tempatku tanda tangan. Setelah itu aku kembali mengikuti pembelajaran seperti biasa.
Ada sebuah kejadian yang tidak bisa aku lupakan hingga saat ini. Yaitu dua minggu sebelum SNMPTN rapotku hilang. Hilangnya di sekolah. Aku panik bukan kepalang. Mana bentar lagi akan diadakan acara pelepasan oleh kepala sekolah dan disaksikan oleh seluruh penghuni SMA. Lalu akupun menghadap ke wali kelas untuk meminta maaf dan meminta solusi atas masalah ini. Dan singkat cerita, akhirnya pada hari H pelepasan, aku memakai rapot cadangan. Jadi ada satu bagian dari acara pelepasan itu, di mana si murid akan menerima rapot + ijazah langsung dari kepala sekolah. Dikarenakan rapotku hilang, akhirnya aku memakai rapot cadangan. Rapot itu tidak ada namanya dan tidak ada isinya kecuali selembar ijazah saja. Setelah acara usai wakasek mendatangiku dan bilang bahwa rapotmu sedang dibuat lagi. Okelah, akhirnya satu masalah terselesaikan.
Masalah kedua adalah SNMPTN. Aku belajar dengan keras hingga tiap malam aku tidur mulai jam 12 dan bangun jam 4 (kurang lebih 5 jam saja). Dan akhirnya, 1 Juli 2009 hari pertempuran pun tiba. Pagi hari sebelum berangkat ke lokasi ujian (Gedung Teknik Kimia ITS), aku mengalami pusing yang hebat. Aku tidak tgerpikir untuk mundur dari ujian ini, karena ini kesempatanku setahun sekali, dan aku sudah menyiapkannya dengan baik sekali. Akhirnya kuputuskan untuk tetap berangkat walau bagaimanapun kondisinya. Sesampainya di lokasi ujian, segera kucari ruanganku. Setelah itu segera kusiapkan diri dengan berdo'a dan mengingat-ingat rumus sebisanya. Lembar soal pun dibagi. TPA aku kerjakan semua dan yakin benar semua. Lalu istirahat dan dilanjutkan dengan Kemampuan dasar. Matematika aku jawab 10 nomer. Bahasa Indonesesia kalau tidak salah 11 nomer. Lalu Bahasa Inggris cuma 7 nomer. Aku kelabakan menghadapi bahasa inggris. Karena soalmya reading semua. Ada soal grammar tapi cuma 2 nomer. Padahal aku belajar grammar setengah mati. Hari kedua pun berhasil aku lewati dengan baik. Sekejap muncul rasa optimis diterima. Tak lupa aku mengecek kembali nomer peserta dan nama peserta takutnya ada salah mengisi.
Akhirnya pertempuran selesai. Dan sekarang tinggal berdo'a dan berdo'a. Kira-kira dua minggu sebelum pengumuman aku diopname. Karena penyakit pusing yang sempat mendera itu ternyata bukan pusing biasa. Ada gangguan di kepalaku sehingga harus dilakukan operasi. Akhirnya operasi dijalankan. Aku hanya bisa pasrah dan berharap SNMPTN ku diterima. Pilihan pertamaku adalah Teknik Elektro ITS dan pilihan keduaku adalah Teknik Fisika ITS.
Singkat cerita, akhirnya tanggal 31 Juni pun tiba. Aku membaca di koran bahwa tanggal 31 Juni puku 18.00 pengumuman sudah bisa diakses di situs resmi snmptn. Usai maghrib, aku segera mengecek di situs snmptn. Tapi tidak bisa. Mungkin karena banyak yang mengakses pada saat yang sama. Aku coba terus, dan akhirnya bisa. Lalu aku masukkan nomer peserta ku, dan yang muncul adalah : Selamat peserta dengan nomer peserta 109-50-01936 diterima di prodi sekian sekian (aku lupa nomer pastinya). Aku kaget sekaligus senang. Lalu aku mengambil buku panduan snmptn yang berwarna biru, lalu aku cek aku diterima di prodi apa. Dan ternyata aku diterima di Teknik Elektro ITS. Segera kuberitahu ibuku. Ibuku langsung nangis dan sujud syukur. Begitu juga Ayahku. Itu adalah malam yang menegangkan sekaligus yang indah dalam hidupku.
Akhirnya, perjuangan belum usai. Justru memasuki babak baru. Tiba-tiba aku teringat dengan wakasek di SMA dulu. Beliau juga dulu kuliah di Teknik Elektro ITS. Dan aku teringat pada selembar kertas yang kutanda tangani dan beliau juga tanda tangan disitu. Ternyata, yang tanda tangan di surat pernyataan itu dua-duanya berasal dari Teknik Elektro ITS.